Dialog

Setiap orang yang datang dan pergi memperkayaku .

Entah dengan luka,, pun cinta .
Atau yang sekedar senggolan,, atau lirikan mata .
Ada yang bekasnya daleeem banget,, ada yang biasa aja . Trus lupa .


Beberapa hari lalu,, aku dan kekasihku (aku akan membiasakan diri menyebut orang2 yang kukasihi sebagai kekasih),, ngobrol .
Awalnya sih cuma curcol2 gitu,, trus makin sore makin gak jelas topiknya .

Sampe negara juga ikut dibawa2 :D

Btw,, topik favorit kami berdua masih selalu tentang "lompatan kebudayaan" . Fenomena kekotaan yang selalu menarik dan tak pernah membosankan untuk dibahas .
Kadang2 kami sengaja nongkrong berdua di suatu pojok kota Jogja sambil membawa anak kami Kinon demi membidik scene2 unik tentang topik itu . Kalo nemu suatu adegan yang menarik kemudian kami akan membahasnya dan menertawakannya . Habis2an .
Puas ketawa ketiwi kami biasanya akan ngomongin hal lain yang lebih personal dan serius .

Ah,, masa muda .



Seringkali,, kami jadi sadar akan banyak hal lewat dialog dari hati ke hati itu:
Kami masih sangat muda - secara harfiah dan konotasi . Dan sama2 belum siap menikah :D

Sebenarnya aku kagum padanya - tapi mati2an gak mau ngakuin itu,, pada kekasihku yang keren itu .
Diantara banyak kekurangannya dia adalah figur yang berdedikasi dan konsisten . Walo kadang cenderung jadi lamban . Dia penyayang dan terlalu murah hati dan gampang mengalah,, walo gak jarang juga gampang marah .
Dia gak akan dengan sengaja mencari2 kesalahan . Dia menerima segala kekurangan . Dia memaafkan . Dia selalu berusaha membuatku nyaman .
Diantara banyak kekurangannya aku berharap hatiku akan selalu lekat padanya .

Lalu dalam dialog itu - kuharap - kami sama2 sedikit lebih mengerti satu sama lain .

Sekaligus menginsyafi bahwa masing2 dari kami akan pergi .
Tak akan benar2 pergi tapi perasaan kehilangan itu sudah ada sejak kini .

Feed The Fish!